The Wave Rider

The challenge to become physician in a rural area is one complex issues which every young doctor had to deal with at some point of their career. If they choose to become ones in a lifetime of course.

Start from the cultures, the mindset, traditional value, and so on. Well thats not the biggest concern if the area cover by lands, but if its not it will drive you in a one hell of a adventures.

As working in the second most outer rings of archipelago, I was dealing with situation where saying “no we can’t” wasn’t an option. Lack of facilities due to difficult transportation lead to unregularly medical distrubutions make almost everything we’d done barely impossible.

One example in this photo, one time a young daughter of the village chief severed with dengue fever. Fall down into dehydration after eight days fever weakend her body. Red patch start to infiltrate his skin while her urine turn black rapidly.

Before I reach the village, the shamman or they used to call “tabib” pour her down with coconut water. Which I think thats make sense, and smart. But apparently the electrolite compounds wasn’t able to sustain the body demand. Her pulse rate still anadequate and the level of consciousness had started to deteriorate.

Our team had no other options unless crossing the ocean and get this young girl immediately to the largest medical facilities. In that term, we must used small speed boat to delivered the girl as soon as possible.

It was not an easy task consider the rain season and storm could hit any boat regardless the size of it. But we did not have any choices. We must cross the ocean.

Three hours riding waves at that moment was the most thrilled experience in my whole career as physician. Our boat was hitted so many times, jumping around avoiding impact. My only attention paid for the girl who was lying in barely open her eyes. I know somehow we are going to make it.

The Sun slowly dropping down, the sea was quite. We reach the hospital after almost 5 hours on the sea. I report everything to the doctor at the ER, and the old physician once said something I have never forgot.

“We never had a medical team like yours from before on the islands. You guys are a good people.”

One year later the Ministry of Health decided to pull me back to the capitol of the province. At the moment our team had done so many medical rescue from those archipelago. The community have been taking care well since then by the local government.

The community health center was equipt with appropriate medical tools. The midwifes get train to handle emergency case routinely and actively involve in continuing healthcare education to young people. Especially young mother who prepare to get birth.

And me?

I continue my journey and hope that seeds we plant, is growing faster and faster, and the result will making impact to the next generation on the islands.

V.J.R

Jamu Gendong Ditengah Perubahan

Dari kecil saya suka minum jamu, agak berbeda dari anggota keluarga lainnya. Menurut saya rasanya yang khas bikin perut hangat pasti ada khasiatnya, meski belum tahu pasti alasannya. Kata si bibi yang suka gendong keranjang jamunya kemana-kemana, “biar pintar den.” gitu. Entah trik marketing atau tidak, yang jelas saya jadi ketagihan juga.

20170505_100111

Masa ketagihan jamu lewat saat masuk bangku kuliah. Digantikan minum karbonasi Coca-Cola atau Sprite, yang kata senior saya dulu Natrium Bikarbonat nya akan mengikat asam lambung kalau telat makan. Secara teori kopi dan jamu bisa bikin lambung iritasi kalau diminum pas perut lagi kosong.

Masuk akal juga meski saya tidak pernah mengecek kebenarannya.

Tapi beberapa tahun belakangan saya jadi tertarik kembali minum jamu. Tidak bisa disangkal industri jamu di Indonesia berkembang terseok-seok ditengah era modernisasi. Dulunya disudut-sudut kota bisa terlihat ibu-ibu setengah baya bahkan yang masih muda memakai kebaya berjalan menggendong keranjang di punggungnya. Di tangannya menenteng ember kecil berisi air untuk membilas gelas dan perabotannya.

Ada beberapa yang menggunakan sepeda ontel, dan gerobak. Meskipun didominasi oleh perempuan, saya jadi penasaran apa ada penjual jamu laki-laki? Kata teman saya di pelosok Jawa banyak penjual jamu laki-laki. Hanya saja kebanyakan dari mereka lebih memilih membuka warung kopi dan sekalian menyediakan jamu bagi yang berminat.

20170505_100149-1

Sepantasnya pemerintah bisa memfasilitasi keberadaan jamu tradisional dalam skala yang besar, bila perlu sampai ke mancanegara. Selain sebagai penambah devisa negara, nilai-nilai budaya yang dibawa merupakan ciri khas Indonesia, dan bila tidak dilestarikan bisa saja lama kelamaan akan hilang diantara industri-industri minuman dari luar negeri.

“Beras kencur atau buat pegal-pegal den?”

“Beras kencur aja bi. Jahenya dibanyakin ya.”

V.J.R

Sang Mahadewi

images (1).jpg

Wanita itu seperti bunga ditepi aliran air. Ia hidup dari aliran kehidupan yang mengalir sepanjang perjalanan waktu, dari hulu ke hilir.

Ia bagaikan rembulan ditengah gelapnya malam. Di dalam kesunyian ia terlelap menanti datangnya Mentari pagi yang memberinya kehangatan dan kehidupan.

Batin wanita itu, kuat seperti akar pohon akasia. Tertancap dalam, seiring waktu berjalan tertatih, untuk mempersiapkan pucuk-pucuk baru yang tumbuh sebagai pengganti masa lalunya dan menyiapkan buah kebaikan bagi masa depannya.

Wanita itu adalah sang Mahadewi bagi para ksatria ditengah peperangan. Sebagai pengobar semangat pantang menyerah, dalam pertarungan kehidupan yang dilakoni bagi generasinya, dimasa yang akan datang.

V.J.R.

Pelajaran Baru Di Kamp Harvesting

Setiap bulan kami menjadwalkan kunjungan ke kamp-kamp pengerjaan lahan. Diantara beberapa unit yang beroperasi, salah satunya kamp Harvesting. Jaraknya sekitar 45 menit dari distrik Pesaguan. 

Ini kali pertama saya ke lokasi ini. Awalnya yang terpikirkan oleh saya adalah lokasi yang sama dengan kamp lainnya. Gubuk sederhana diantara lahan gersang dengan penutup ala kadarnya. Lahan pun dihamparan luas datar dengan tumpukan-tumpukan kayu hasil logging. Semuanya benar dan sama persis kecuali untuk mencapai kamp ini kita harus menuruni tebing tinggi dengan lebar jalan setapak hanya mampu dilewati 1 mobil saja. Disamping kiri dan kanan adalah tebing setinggi 5 sampai 7 meter.

Situasi sedikit membuat saya cemas saat hujan turun membuat jalanan tanjakan naik semakin licin. Resiko tergelincir membuat saya harus memutar otak bagaimana caranya menambah tenaga dorong ambulans kami yang berberat hampir 1,2 ton. 

Ditambah dengan jalananan yang licin, ban ambulans tidak mampu mencengkram kuat pijakannya, usaha mengayunkan mobil menjadi lebih sulit. Beberapa kali mencoba dan gagal, saya meminta Ken perawat kami dan Pak Ismail salah seorang pekerja membantu menahan laju ambulans yang hampir tergelincir kebelakang.

Pak Ismail yang cukup berpengalaman memberitahu saya untuk menaikkan transmisi ke 4L dan dengan bantuan batang kayu yang diganjal di ban belakang, saya diminta mengayunkan lagi mobil dengan mengkordinasikan rem tangan  dengan hentakan gas secara cepat. Alhasil, mobil yang hampir tergelincir kebawah terdorong kedepan. Dengan cepat porsneling saya ganti untuk menghindari kekosongan antara perpindahan transmisi, dan sisa jarak ke dataran atas bisa saya capai tanpa menurunkan gas.
Fiuh.

Bertambah lagi pengetahuan saya di lapangan. Saat-saat inilah saat saya merindukan jalanan aspal yang mulus, meski harus berkompetisi dengan Bang Ucok, supir kopaja di Kampung Melayu.

“Woi, cepatlah kau jalan. Cam mana pula!”

 Vallentino.

Hari Yang Normal di Pesaguan

Pekerjaan di klinik ini sedikit berbeda dengan pekerjaan-pekerjaan saya sebelumnya. Tidak ada jam jaga malam, tidak ada jam operasi, dan tidak ada pasien anak maupun orang lanjut usia. Rata-rata pekerja masih usai produktif antara 18 tahun sampai 40an. Kalaupun ada wanita pastinya bisa dihitung dengan jari. 

Klinik perusahaan di Pesaguan ini terletak di Kabupaten Ketapang propinsi Kalimantan Barat. Dibawah bendera PT. Wana Hijau Pesaguan (WHP) klinik dioperasikan untuk melakukan promosi kesehatan, pencegahan kecelakaan kerja, dan tindakan kuratif terhadap kecelakaan kerja di lapangan. Jumlah personil secara total ada 4 orang, yang berganti jam kerja setiap sebulan sekali. Satu dokter dan satu perawat. 

Angka kejadian kecelakaan tidak dapat dipastikan, karena kinerja tim Health and Safety Environment sendiri baik untuk menjaga kemungkinan-kemungkinan terburuk. Namun tidak bisa dihindari terkadang kejadian trauma datang dalam situasi yang tidak menentu.

Konflik pun tidak bisa dihindari dalam proses kerja disini. Saat saya datang dan berbincang dengan manager site Pak Budiyanto, seorang masyarakat meninggal dunia karena pertikaian berdarah. Yang diketahui, masalahnya dipicu oleh perebutan hak lahan antara sesama keluarga. Karena kejadian perkara terjadi pada lahan yang sementara dikerjakan, pihak perusahaan mengambil inisiatif untuk membantu penyelesaian.

Sejauh ini saya menikmati pekerjaan ini. Semoga kedepannya akan lebih baik lagi.

V.J.R

Trip Kedua Pesaguan

Pukul 5.15 pagi panggilan boarding memanggil penumpang Sriwijaya Air rute Jakarta – Pontianak. Kalau sesuai jadwal maka pukul 6.40 saya sudah berada di Bandara Internasional Supadio Pontianak Kalimantan Barat. Dari situ Pak Ronald akan menjemput dan perjalanan kami kembali ke lokasi perkebunan akan memakan waktu 9 jam.

Saya akan bertukar tempat dengan Dr. Mariani setelah sebulan dia bertugas dan menyelesaikan program-program kerja bulan kemarin. Dari beberapa yang saya titipkan, yang terutama adalah mengecek kondisi para karyawan yang termasuk dalam kondisi resiko tinggi penderita tekanan darah tinggi. Setelah kejadian Pak Prabowo yang kolaps karena serangan stroke, beberapa orang saya jadwalkan untuk diperiksa setiap harinya.

Cuaca di Soekarno Hatta tidak lebih baik dari di Supadio. Kabut tebal menutup landasan pesawat didahului awan tebal diatas daerah lepas landas. Pesawat bergoyang-bergoyang dengan kecepatan 800 km/jam perlahan melambat saat akan mendarat. Pikiran saya terbawa saat pertama kali menginjakkan kaki disini. 

Hampir sebagian besar penumpang adalah warga keturunan Cina. Pontianak memang dipenuhi klenteng dan rumah ibadah Kong Hu Cu. Kehidupan yang harmonis antara umat beragama disini patut dicontohi. Diantara klenteng-klenteng yang megah, gereja katedral Katolik pun tak kalah megahnya. Begitu pula dengan masjid dengan sentuhan budaya melayu yang kental. Tidak terdengar gesekan-gesekan antar etnis agama dan ras serta suku disini.

Seandainya di Indonesia kehidupan bisa lebih saling menerima tanpa mempersoalkan perbedaan, mungkin peradaban kita akan jauh lebih maju dari negara-negara asia lainnya.

Telepon berdering dari penjemput saya Pak Rono mengakhiri lamunan ditengah riuhnya keramaian bandara Supadio. Waktunya perjalanan 9 jam dimulai. Tiga jam perjalanan kami singgah di Simpang Ampar, daerah persinggahan untuk melepas lelah dan mengisi perut. Masih ada 6 jam lagi waktu tempuh perjalanan.

Satu hal yang harus saya usulkan pada Pak Budiyanto manajer perkebunan, untuk kelancaran kerja ada baiknya disediakan jasa pijat bagi karyawan yang baru tiba di lokasi.

Plus-plus dok? Ah boleh-lah, plus dikerokin sambil minum teh jahe maksud saya. Cuaca dingin di site hanya bisa diusir dengan teh jahe favorit saya.

V.J.R